Thursday, 19 May 2011

cerita ttg Danau maninjau

Baru nie ketika buat kerja di sumatera barat, sempatlah aku ke danau maninjau, borak punya borak dengan penduduk tempatan, lalu aku pun mula lah nak tau...ttg Danau maninjau yang sangat-sangat luas nie....alkisahnya, sungguh trajis danau yang dikenali juga dengan nama bujang sembilan ini....
Danau Maninjau adalah sebuah danau gunung berapi yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99.5 km dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat.
Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. dulunya gunung nie bernama Gunung Tinjau. Di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas, dan di kakinya terdapat beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur dan sejahtera, karena mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang ada di sekitar Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami berupa abu gunung.
Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua ibubapa mereka sudah lama meninggal, dan Kukuban sebagai anak sulung menjadi ketua keluarga. Semua keputusan ada di tangannya.
Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan ibu bapa mereka mereka menjalankan pertanian yang cukup luas dikebun peninggalan kedua orangtua mereka, Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh pakcik mereka yang bernama Datuk Limbatang,
Datuk Limbatang adalah seorang penghulu di kampung itu dan mempunyai seorang anak lelaki yang bernama Giran. setiap dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara melihat mereka adik beradik.Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran berkunjung ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling berpandangan dengan Giran. dipendekkan cerita biasalah keduanya pun jatuh cintan cintun...
sejak tu Giran pun selalulah datang membantu bujang sembilan, keluarga semua pun dah setuju cuma nak tunggu lepas panen.(selepas musim menuai)
Ketika musim menuai tiba, semua penduduk kampung memperoleh hasil yang melimpah. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, para pemuka adat dan seluruh penduduk bersepakat untuk mengadakan gelanggang adu ketangkasan bermain silat. Para pemuda kampung menyambut gembira acara tersebut. Dengan semangat berapi-api, mereka segera mendaftarkan diri kepada panitia acara. Tidak ketinggalan pula Kukuban dan Giran turut ambil bagian dalam acara tersebut.
Kukuban berhasil mengalahkan lawannya. Setelah itu, peserta berikutnya satu per satu masuk ke arena gelanggang perhelatan untuk melawan Kukuban, namun belum seorang pun yang mampu mengalahkannya. Masih tersisa satu peserta lagi yang belum maju, yakni si Giran. Kini, Kukuban menghadapi lawan yang seimbang.

No comments:

Post a Comment